Gerekan Peningkatan Skala Agroekologi Komunitas dan Penghidupan Berkelanjutan untuk Ketahanan Iklim

 

Di sebuah pagi yang tenang di pedalaman Barito Timur, seorang perempuan Dayak Ma’anyan tersenyum sambil mengangkat rumpun keladi yang baru dipanen dari kebun keluarganya. Tangannya memegang hasil panen sederhana itu dengan bangga. Di belakangnya berdiri hutan yang masih tersisa, menjadi saksi hubungan panjang antara manusia, tanah dan pangan.

Bagi sebagian orang, keladi mungkin hanya tanaman biasa. Namun bagi masyarakat di Barito Timur, ia adalah simbol ketahanan. Ia tumbuh ketika musim tidak menentu. Ia menjadi sumber pangan ketika harga kebutuhan pokok naik. Ia adalah bagian dari pengetahuan turun-temurun yang diwariskan oleh leluhur kepada generasi berikutnya.

Di desa-desa Janajari, Tangkan, Piango, Didi, Gumpa, dan Matarah, kisah seperti ini masih hidup. Masyarakat masih mengenal berbagai jenis pangan lokal, masih menjaga benih tradisional, masih mengolah lahan dengan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun perubahan zaman membawa tantangan baru.

Perubahan iklim membuat musim semakin sulit diprediksi. Curah hujan berubah. Kekeringan semakin panjang di beberapa waktu. Tekanan ekonomi mendorong sebagian masyarakat meninggalkan praktik-praktik pertanian tradisional yang selama ini terbukti menjaga keseimbangan alam. Sementara itu, generasi muda semakin jauh dari pengetahuan pangan lokal yang dahulu menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Di tengah tantangan tersebut, harapan masih tumbuh.

Harapan itu terlihat ketika para perempuan berkumpul di kebun komunitas untuk belajar mengelola pekarangan pangan. Harapan itu tampak ketika para pemuda menanam bibit sayuran dan tanaman produktif di lahan percontohan desa. Harapan itu hadir ketika masyarakat duduk melingkar di balai pertemuan, berdiskusi tentang masa depan pangan, hutan, dan kehidupan mereka sendiri.

Foto-foto yang mendokumentasikan perjalanan ini menunjukkan lebih dari sekadar kegiatan proyek. Ia memperlihatkan proses membangun kembali hubungan antara manusia dan alam.

Seorang pemuda yang menanam bibit kecil di tanah mungkin terlihat sedang melakukan pekerjaan sederhana. Namun sesungguhnya ia sedang menanam harapan. Bibit itu bukan hanya tanaman. Ia adalah simbol regenerasi pengetahuan lokal, simbol keterlibatan generasi muda dalam menjaga masa depan desa dan simbol keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Demikian pula ketika perempuan-perempuan komunitas mengelola kebun bersama. Mereka tidak hanya menanam sayuran atau tanaman pangan. Mereka sedang membangun ketahanan keluarga, memperkuat ekonomi rumah tangga, dan memastikan bahwa pangan sehat tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Di sisi lain, hutan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Banyak tanaman obat, rempah-rempah, sumber pangan liar, dan pengetahuan tradisional yang masih tersimpan di dalamnya. Ketika seorang perempuan berjalan di antara pepohonan sambil menunjukkan tanaman yang dikenalnya sejak kecil, ia sesungguhnya sedang menjaga perpustakaan hidup yang tidak tertulis di buku mana pun.

Karena itu, bagi masyarakat Barito Timur, konservasi hutan tidak dapat dipisahkan dari penghidupan masyarakat. Hutan yang lestari mendukung sumber air, menjaga kesuburan tanah, menyediakan pangan dan obat-obatan, serta menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Dayak Ma’anyan.

Berangkat dari pengalaman pendampingan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir, JPIC Kalimantan bersama komunitas mengembangkan inisiatif gerakan “Peningkatan Skala Agroekologi Komunitas dan Penghidupan Berkelanjutan untuk Ketahanan Iklim dan Hutan di Barito Timur”.

Program ini bukan memulai sesuatu yang baru. Sebaliknya, program ini merupakan upaya memperluas dan memperkuat praktik-praktik baik yang telah tumbuh dari masyarakat sendiri. Melalui sekolah lapang agroekologi, penguatan pangan lokal, konservasi benih, pengembangan agroforestri, pelibatan perempuan dan pemuda, serta penguatan ekonomi komunitas, masyarakat akan semakin mampu menghadapi perubahan iklim tanpa harus meningkatkan tekanan terhadap hutan.

Yang ingin dibangun bukan sekadar proyek selama lima belas bulan.

Yang ingin dibangun adalah fondasi jangka panjang bagi desa-desa yang lebih tangguh, masyarakat yang lebih mandiri dan bentang alam yang lebih lestari.

Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya diukur dari jumlah pelatihan yang terlaksana atau jumlah peserta yang hadir. Keberhasilan sesungguhnya akan terlihat ketika semakin banyak keluarga yang kembali menanam pangan lokal, semakin banyak pemuda yang memilih terlibat dalam pertanian berkelanjutan, semakin banyak perempuan yang memimpin perubahan di komunitasnya, dan semakin kuat hubungan masyarakat dengan hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Pada akhirnya, ketahanan iklim tidak lahir dari teknologi yang paling canggih. Ia lahir dari masyarakat yang mampu menjaga hubungan harmonis dengan tanah, air, hutan dan sesamanya.

Dan di Barito Timur, kisah itu sedang ditulis setiap hari, di kebun-kebun kecil, di balai pertemuan desa, di tangan para perempuan penjaga pangan lokal, dan di langkah para pemuda yang menanam masa depan mereka sendiri. (Red)